Menyongsong Abad Kedua NU, Slamet Ariyadi Dorong Peran Strategis Generasi Muda di Muktamar ke – 35

banner 120x600

 

 

JAKARTA, jakartabersahabat.com :

 

Memasuki fase krusial menuju abad kedua organisasi, Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 dinilai bukan sekadar agenda periodik lima tahunan. Perhelatan besar ini merupakan momentum strategis untuk mengevaluasi perjalanan sejarah sekaligus menata arah masa depan bangsa, dengan fokus utama pada pemberdayaan generasi muda.

 

Pandangan tersebut disampaikan oleh Kader NU yang juga Anggota DPR RI Fraksi PAN, Slamet Ariyadi, dalam keterangannya yang menyoroti pentingnya transformasi organisasi di era modern.

 

Menurut Slamet, tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini sudah jauh lebih kompleks, meliputi transformasi digital, perkembangan teknologi, dinamika geopolitik global, ketahanan pangan dan energi, isu lingkungan hidup, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dalam menjawab berbagai tantangan tersebut, posisi pemuda harus ditempatkan secara progresif.

 

“Generasi muda bukan sekadar penerus estafet kepemimpinan, tetapi juga harus menjadi penggerak perubahan, pencipta inovasi, sekaligus penjaga nilai-nilai kebangsaan,” ujar Slamet, Jumat (28/8).

 

Ia menekankan agar Muktamar ke-35 mampu melahirkan gagasan-gagasan besar yang adaptif terhadap kebutuhan zaman. NU, lanjutnya, perlu memberikan ruang partisipasi yang lebih luas bagi anak muda untuk berkontribusi di berbagai sektor strategis, mulai dari pengambilan keputusan, pengembangan ekonomi, pendidikan, teknologi, hingga kewirausahaan.

 

Di samping penguatan ekonomi dan teknologi, peran moral dan sosial NU dalam merawat persatuan bangsa juga dinilai semakin krusial di tengah derasnya arus informasi dan potensi polarisasi digital. Nilai-nilai moderasi, toleransi, gotong royong, dan nasionalisme harus terus digaungkan.

 

Karena itu, Muktamar NU ke-35 diharapkan menjadi ruang konsolidasi lintas generasi yang efektif. Sinergi antara kearifan para kiai dan ulama sebagai fondasi dengan energi serta inovasi dari kalangan muda diyakini akan menjadi kekuatan besar dalam melangkah ke depan.

 

“Abad kedua NU bukan hanya tentang mempertahankan apa yang telah diwariskan, tetapi juga tentang keberanian menciptakan sesuatu yang baru. NU harus mampu menjawab zaman tanpa kehilangan akar sejarah, tradisi, dan jati dirinya,” tambahnya.

 

Melalui momentum Muktamar NU ke-35, ketahanan masa depan organisasi dan masa depan bangsa dipandang berjalan beriringan. Ketika generasi muda tumbuh menjadi sosok yang kuat, berilmu, berkarakter, dan peduli terhadap negara, maka kemajuan Indonesia secara otomatis akan turut terjamin.

 

“Dari tradisi menuju inovasi, dari regenerasi menuju transformasi, dan dari abad pertama menuju abad kedua yang lebih maju, berkeadaban, serta membawa kemaslahatan bagi seluruh anak bangsa,” pungkasnya.

 

 

Sumber : Divisi Humas MIO Indonesia DKI Jakarta

 

 

Reporter : Edo Lembang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *